Gabut 82

 

Catatan Harian si Dina. Rabu, 13 Januari 2021. Hari ini aku makan jamur, iya jamur. Yang spesial dari jamur ini adalah tempat tumbuhnya. Warga sekitar rumahku menyebutnya jamur limbah. Ya, jamur limbah karena tumbuh di limbah pembuangan ampas dari pabrik. Bentuknya seperti kuncup bunga melati jika masih belum mekar. Dan jika mekar akan sama seperti jamur kebanyakan. Jamur ini merupakan Jamur Merang, disebut merang karena sering kali tumbuh pada merang atau jerami. Ya seperti tempat tempat lembab seperti itulah.

Dengan bentuk seperti telur Kinderjoy berwarna putih tulang dengan bagian atas berwarna abu abu gelap atau coklat terang. Seringkali susah mencari keberadaannya bagi orang orang yang jarang mencari atau yang masih awam. Apalagi limbah tempat tumbuhnya ini berwarna putih tulang keabunan, jika kering akan berwarna kecoklatan. Jamur ini sebelumnya juga tumbuh di limbah dari pabrik tebu. Kalau limbah tebu ini berwarna hitam pekat dan selalu basah jadi tidak bisa dipijak. Dan baunya manis sekali tapi terkesan menyengat hidung. Seperti aroma pemanis 1000 manis. Karena kondisi tempat tumbuh yang selalu lembab membuat jamur terus tumbuh sepanjang musim. Selagi limbahnya ada sebelum dimakan sapi. Tidak tahu kenapa, tapi kemudian pabrik gula tidak membuang limbahnya disitu lagi.

Masih di lokasi yang sama, kemudian datang limbah entah dari pabrik mana membungang limbah berwarna putih berbangu menyengat. Seperti bau bau bahan kimia. Saking banyaknya limbah tersebut sampai seperti perbukitan. Untung saja lokasi pembuangan limbah berada di bekas galian. Jadi tinggi limbah masih tinggian tanah di sampingnya. Limbah ini creamy begitu saat baru turun dari truk. Jadi tidak bisa jadi tempat tumbuh jamur. Baru seminggu kemudian saat permukaan limbah kering dan retak retak kita bisa mencari jamur disela selanya.

Susah mencarinya bagi orang awam. Apalagi mereka tidak terbiasa dengan medan pencarian jamur yang bau dan kotor. Salah ambil langkah bisa saja kaki terperosok kedalam. Karena bagian tengah selalu basah meski permukaanya kering dan pecah pecah. Jamur ini muncul hanya saat musim pancaroba saja. Karena kalau musim kemarau sela sela di pecahan permukaan akan ikut kering.

Biasanya jamur ini diolah dengan dijakan oseng oseng. Bumbunya sederhana saja, bawang merah, bawang putih, cabai, garam secukupnya dan seperting dengan kencur sedikit. Rasanya kencal dan lebih enak daripada jamur tiram bagiku. Keluargaku biasanya kalau masak dalam porsi besar, karena biasa dimintai tetangga yang pingin icip icip. Mereka tidak mau mencari sendiri karena mengaku susah nyarinya. Terkadang waktu satu jam saja hanya mendapatkan satu genggaman. Sedangkan biasanya aku dan anak tongkrongan di rumahku bisa sampai kresek besar untuk satu orang. Sedangkan kita biasa orang lima atau lebih yang mencari kemudian berpencar mencari jamur di balik bukit bukit limbah ini.

Yang menikmati dan yang selamu memanfaatkan jamur ini hanya sebatas anak tongkrongan rumahku saja. Orang orang mengaku takut saat mengolahnya akan keracunan. Bisanya meminta saat sudah matang ke rumahku atau dapur basecamp. Tadi aku diajak mencari jamur sat setelah hujan sama anak tongkrongan –mereka menyebut dirinya anak basecamp-, tapi aku tidak mau.

Takut keracunan apa malas membersihkannya?. Karena proses membersihkannnya ini memang paling bikin mager. Kok  bisa orang orang takut keracunan tidak melihat kita yang sehat wal afiat ini. Kami ini anak kebal, jamur limbah saja dimakan, padahal orang orang pada jijik. Berhubung dari kecil circle ku hanya anak basecamp ini saja, jadi aku dan kembaranku sering ikut ikutan jadi anak alas seperti mereka. Makan ulat daun, jangkrik, landak, brekay, ayam sawah, burung kuntul di sawah yang warna putih itu, kelelawar sampai kodok pernah aku makan. Dan itu bukan hanya sekali. Perutku ini kebal diberbagai situasii.

                                                                                           

 

 

 

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Gabut 88. Dunia Perbawangan

Gabut 69

RENCANA JAHAT