Produktif 1. ANATARA AKU DAN MAS SATPAM

 

MAS-MAS SATPAM MENYEBALKAN

Catatan Harian Si Dina. Selasa, 26 Januari 2021 merupakan hari pertama aku dan teman-teman melaksanakan diklat. Lokasinya berada di Malang, alias Madura Telang. Kami diperintahkan harus sudah ada di Telang pukul 16.00 WIB. Cilakanya kami telat datang karena hujan dan karena miskomunikasi dengan mas mbaknya mengenai lokasi diklat, kami malah ke kampus dan sempat bersitegang dengan para satpamnya. Satpamnya beralasan kita tidak boleh masuk karena sudah melewati jam tamu, yang boleh masuk hanya dosen dan mahasiswa skripsi. Satpam menyebalkan.

 

Saat itu, aku diantar oleh Umik untuk kekampus. Karena kami tidak tahu dimana lokasi kosan Retno, jadinya kita keliling Graha Telang Indah. Sempat tanya-tanya ke warga setempat dan bocah bocah yang sedang bermain hujan dipinggir jalan. Karena katanya, kosan tersebut dekat Cafe Abel. Sedangkan aku tidak tahu menahu mengenai cafe tersebut. Sedang hujan pula, dan aku sudah mulai mabuk AC mobil. Hujannya deras sekali sampai bunyinya masuk kedalam mobil.

 

Setelah berkeliling hingga tersesat, sampailah kami di kosan Retno. Sudah ada Weinona dan Retno yang menunggu didepan gerbang kosan. Karena  sudah mepet dari jam yang diperintahkan, kami begegas bersiap dan memakai jas hujan. Tidak lupa mengganti sepatu dengan sandal agar memudahkan berjalan digenangan air. Dilihat sekilas kampus memang seperti dekat sekali dengan kosan. Tapi saat dijalani ternyata sangat jauh.

 

Kondisi jalanan Telang yang sedang banjir membuat kami harus hati hati melangkah. Bahu jalanan yang berlumut dan penuh semak belukar tentu saja tidak bisa kami lalui. Terpaksa kami melewati tengah jalan. Meski sudah tidak hujan, rasanya malas sekali membuka jas hujan. Sehingga penampilan aneh kami menjadi tontonan orang sekitar. Kami sih bodo amat. Yang penting cepat sampai lokasi tujuan. Aku sempat menemuka ikan lele seukuran dua ruas jari berenang renang di kubangan jalan. Mau aku tangkap tapi tidak ada waktu.

 

Sesampainya kami dikampus, atas petunjuk dari Google Maps yang dibagikan di grup besar, kami dihadang para satpam. Seperti yang sudah aku bilang di awal, kami dilarang masuk. Mungkin karena alasan mereka yang logis atau juga karena penampilan aneh kami?. Akupun tak tahu lah. Tidak tahu kenapa aku kesal sekali mendengan nada suara dari pak satpamnya, eh atau bisa dibilang mas satpam?. Sok tegas dan berwibawa sekali suaranya. Padahal suaranya tidak ada tegas-tegasnya.

 

Yang membuat aku heran kenapa itu mas-mas satpam berdirinya bergerombol begitu?. Padahal ada banyak tempat yang perlu dijaga, kenapa hanya bergerombol di gerbang keluar saja? Apa agar terlihat keren seperti geng-geng badboy didalam Wattpad?. Kasihan, mana masih muda.

 

Lelah mencoba menyakinkan mas satpam bahwa kami mahasiswa UTM juga, akhirnya aku telpon saja mas Hilmy agar dijemput. Ekspetasiku kami bakal dijemput dari dalam kampus. Sehingga kami senantiasa menoleh kedalam kampus. Setiap ada cowok bersepeda datang dari dalam kampus berpakaian rapih, kami serempak menoleh. Ternyata mas Hilmy datang dari luar kampus dengan penampilan santai. Lengkap dengan sandal jepit dan bokser.

 

Kami digiring keluar area kampus, sebelum itu saat digerbang mas Hilmy dimintai tong untuk menurunkan tiang portal. Karena tempat kaitan potal tersebut terkena genangan banjir. Wajah bingung mas Hilmy membuatku ngakak. Untung pakai masker jadi tawaku tidak terlihat. Berdosa sekali aku ini menertawakan kating.

 

Sepanjang perjalanan ke kontrakan, aku berpikir. Kenapa aku sesensi itu ke mas-mas satpam tadi?. Padahal aku tahu tidak semua satpam muda disana menyebalkan. Tak tahu deh otakku saja yang error mungkin. Dulu aku kira mereka itu mas-mas mahasiswa yang lama tidah lulus-lulus sehingga mencari uang tambahan UKT dari menjadi satpam kampus. Oh itu teori dari papaku. Masuk akal tidak?. Tidak? Oh oke.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Gabut 88. Dunia Perbawangan

Gabut 69

RENCANA JAHAT