Produktif 3. NPETUGAS RUKYAH MASAL WARKOP
NGAJI DI
WARKOP BERASA JADI PETUGAS RUKYAH MASAL
Catatan Harian Si Dina. Pada suatu hari yang cerah,
Wei tidak dapat menyelesaikan bacaanya. Karena kami kira akan dihukum memakan
cabai seperti sebelumnya, jadinya kami santai saja. Kami juga memaklumi karena
saat itu Wei, sapaan kami pada Weinona, sedang mengurusi pendaftaran Penurunan
UKT. Tanpa kami duga hukumannya seperti itu.
Malam itu aku yang menjadi pemantik diskusi buku. Aku
membawakan topik tentang Kamp. Komunis yang diasingkan di kawasan hutan
belantara, Digul, New Guenia, sekarang Papua. Untung saja aku menguasai materi,
sehingga semua pertanyaan bisa aku jawab. Dan beruntungnya mas Aji Iman yang
saat itu jadi moderatorku tidak menyebalkan dengan ikut banyak tanya seperti
biasanya mas Hilmy dan mas Aji nabi ketika menjadi moderator.
Diskusi buku berjalan lancar dan cepat. Tidak seperti
biasanya. Aku sempat heran dan merasa ada sesuatu yang akan terjadi. Dan
ternyata benar dugaanku. Kami dihukum mengaji Yasin dan Tahlil di sebuah warkop depan gedung pertemuan. Warkop Wayang namanya.
Setelah memesan minuman, kami duduk bergerombol dekat
dengan kursi mas mbaknya. Sempat berebutan tempat duduk yang tersembunyi. Aku
santai saja meski banyak yang memperhatikan. Untung saja aku pemberani.
Lagi pula aku tidak kenal mereka. Jadi
untuk apa aku malu.
Kami mulai mengaji, mulanya kami membaca surah Yasin,
kemudian dilanjut dengan membaca Tahlil. Speaker
warkop sudah dimatikan, sesuai dengan permintaan mas mbaknya. Kami sudah
mendapatkan perhatian semua pengunjung warkop. Mungkin yang ada dipikiran
mereka kami ini aneh. Atau anak pondok mana yang nyasar sampai warkop. Atau
juga ada yang sudah mengenali mas mbaknya sebagai anak SM. Sehingga mereka
mungkin menyadari kalau kami ini Maba yang sedang melakukan suruhan kakak
tingkatnya di UKM tersebut.
Melihat teman temanku yang sedikit badmood karena
malu, aku sempat kesal. Kenapa mereka malu, padahal aku sendiri menikmati
hukuman ini. Tapi bukan berati aku mau dihukum lagi. Oh tentu saja tidak mau.
Sedari tadi mereka terus menunduk. Padahal posisinya sudah membelakangi keruman
pengunjung. Yang terlihat mungkin hanya wajahku dan Adit saja yang saat itu
kursinya menghadap kerumunan.
Saking malunya, mereka memngaji dengan suara yang
tidak lantang. Karena berkeinginan agar tidak menjadi pusat perhatian terus.
Sambil mengaji aku seringkali mengedarkan pandangan arah pengunjung. Lihatlah,
mereka bahkan tidak peduli ada yang mengaji. Mereka terus melanjutkan
obrolan bersama teman atau pacar. Kami
hanya menjadi pusat perhatian sebentar kemudian terabaikan.
Sempat
terbesit dipikiranku maksud dan tujuan mas mbaknya memberi hukuman seperti ini.
Karena hukuman seperti ini terkesan ingin memalukan kami. Tapi aku memiliki
opini lain. Aku berpikir bahwa kami dihukum seperti ini agar melatih mental
kami untuk menyebarkan kebuah kejujuran atau kebenaran meski berada disebuah
arus yang berbeda.
Diantara para manusia yang ngopi dengan Handphone di tangan yang tersambung Wifi, sibuk haha hihi bersama manusia
lainnya, berselfie, kemudian sibuk
dengan Handphone masing-masing, ada
kami yang sedang menyandungkan ayat-ayat suci Al- Qur’an. Masya allah, semoga berkah apa yang sudah kami lakukan. Kami sedang
melakukan hal yang benar dan berfaedah, kanapa harus malu?.
Begonya,
aku berpikir kami ini sedang merukyah manusia-manusia gabut ini. Agar setan gabut
yang ada dalam diri mereka kabur dan mereka bisa melakukan hal yang bermanfaat
lainnya. Aku juga sempat berpikir untuk menyembur air pada mereka sesaat
setelah membaca Tahlil.
Komentar
Posting Komentar