Produktif 6. 8 GEMBEL MAU JADI WALI?
PERJALANAN 8
GEMBEL MENCARI SYAFAAT
Catatan Harian Si Dina. Saat itu hari kamis malam
jum’at, kami ditugaskan untuk ke makan Syeihk Khona Kholil dengan berjalan
kaki. Berdasarkan pengalaman mbak masnya, kemungkinan perjalanan hanya 4 jam
jika ditempuh dengan jalan kaki dan hanya 10 menit dengan sepeda motor. Menurut
Google Maps, jarak dari kontrakan ke makan sekitar 11 Km. Masya allah jauhnya.
Kami berangkat pukul 8 malam dengan memakai jas hujan
ya karena hujanlah apalagi kalau pakai jas hujan demi untuk menggindari air
hujan yang jatuh ketubuh. Yakali gabut pakai jas hujan malem malem. Meski sudah
reda dan masih menyisahkan gerimis, jas hujan masih kami pakai. Sampai dilihati
oleh orang-orang.
Awalnya masih baik-baik saja. Kami masih berada
dijalanan yang ramai penduduk. Meski kami menjadi pusat perhatian orang-orang
di warkop kami masih bisa bercanda bersama. Memasuki jalanan socah yang sepi,
kami mulai waswas. Apalagi dengan kondisi pohon besar disepanjang jalan yang
tidak diberi penerangan yang memadai.
Sehingga kami mengandalkan sinar bulan saja. Terkadang kami khawatir akan
kehadiran orang yang sedang mencari tokek dipinggir jalan, takut kalau itu
begal atau orang yang mau carok.
Rasa takut yang aku alami ternyata dialami semua
teman-temanku. Pantas saja dari tadi mereka diam saja. Aku dengar dengan lirih
mereka membaca doa-doa keselamatan. Aku mencoba baca ayat kursi, tapi malah
nyambung ke doa qunut saking takutnya aku. Sepi sekali tidak ada kendaraan yang
lewat.
Saat aku lihat jam di pergelangan tangan, ternyata
sudah mau tengah malam. Pantas saja sudah sepi jalanan ini. Beberapa kali kami
digodain sama jamet-jamet syar’i.
Kenapa aku bilang syar’i? Ya karena
penampilan mereka yang seperti santri, tapi kelakuan jamet sekali.
Takut juga kalau bakal diapa-apakah sama jamet-jamet
tersebut. Tidak ada yang bisa diandalkan dari kami. Lelaki cuman satu saja
jelas kalah jumlah kalau kita di serbu jamet.
Untung saja hanya digodain, mereka tidak macam-macam. Kata Adit mereka segan
karena Adit pimpinan jamet Kamal. Nghokay serah dia deh.
Beberapa kali kami berhenti sejenak di emperan toko.
Sangat mencerminkan gembel Indonesia. mengantuk dan pegal. Itu yang kami
rasakan. Salah satu toko yang emperannya kami gunakan tidur sejenak, aku
melihat sesuatu. Tapi tidak berani bilang ke teman-teman. Melihat kondisi
mereka yang kelelahan. Aku mencoba melupakan dan masuk ke alam mimpi seperti
teman-teman yang lain.
Aku melihat seperti benda berbulu, macam monyet di
sebuah pohon. Tapi punggungnya saja yang terlihat. Awalnya aku kira memang
monyet. Tapi setelah aku telisik lebih jelas. Itu benda aneh tidak menempel
pada pohon atau apapun. Aku tidak bisa menyimpulkan itu hantu, karena masa ada
hantu berbulu?. Aku kira pel-pelan atau semacamnya. Atau sebuah ujung galah
yang aku tidak tahu fungsinya yang disandarkan pada pohon tersebut. Tapi
ternyata bukan, benda tersebut sedikit bergoyang.
Saking takutnya, aku mencengjeram erat pegangan tas
yang Chindy pakai untuk menutupi wajahnya. Semoga Chindy tidak tercekik. Karena
aku takut benda aneh tersebut adalah mahkluk jadi-jadian. Kemudian mengetahui
aku mengawasinya, aku akan dibawanya ke alam lain.
Aku juga sempat berpikir mungkin itu mahkuk halus
yang sedang mencari tumbal di malam jum’at seperti ini. Ketika aku bangun, aku
masih merasa diawasi dari belakang. Aku mencoba tidak melihat dan menoleh.
Mungkin saja ini hanya halusinasiku saja
Komentar
Posting Komentar